Ketika Anak Mulai Menjauh: Memahami Kedekatan dan Kemandirian Anak yang Beranjak Dewasa
Ketika anak memasuki masa perkuliahan, sebagian orang tua mungkin mulai merasakan perubahan dalam hubungan.
Anak yang sebelumnya sering bercerita kini lebih banyak menghabiskan waktu bersama teman. Pesan tidak selalu langsung dibalas. Keputusan-keputusan tertentu mulai dibuat tanpa banyak meminta pendapat orang tua.
Perubahan ini terkadang dapat menimbulkan pertanyaan: “Apakah anak saya mulai menjauh?”. Padahal, bertambahnya kemandirian tidak selalu berarti berkurangnya kedekatan.
Kedekatan dan Kemandirian dapat Berjalan Bersama
Berdasarkan Attachment Theory, hubungan yang memberikan rasa aman dapat menjadi secure base atau “landasan yang aman” bagi seseorang untuk mengeksplorasi dunia. Artinya, hubungan yang aman bukan hanya tentang selalu dekat secara fisik, tetapi juga tentang adanya rasa percaya bahwa seseorang dapat kembali mencari dukungan ketika membutuhkannya. Rasa aman tersebut dapat membantu seseorang memiliki keberanian untuk mencoba hal baru, mengambil keputusan, dan berkembang secara mandiri (Bowlby, 1988; Feeney & Van Vleet, 2010). Dalam konteks hubungan orang tua dan anak yang telah beranjak dewasa, hal ini dapat menjadi pengingat bahwa memberikan ruang tidak selalu berarti kehilangan kedekatan.
Ketika Bentuk Kedekatan Berubah
Anak yang telah memasuki masa dewasa awal sedang belajar mengenali dirinya, membangun hubungan sosial, dan menentukan arah hidupnya.
Dalam proses tersebut, cara mereka terhubung dengan orang tua juga dapat berubah.
Mereka mungkin tidak lagi menceritakan setiap hal yang terjadi dalam kesehariannya. Namun, bukan berarti orang tua tidak lagi penting.
Terkadang, yang dibutuhkan bukan lagi orang tua yang mengetahui setiap detail, melainkan keyakinan bahwa ada tempat yang tetap aman untuk kembali ketika mereka membutuhkan dukungan.
Hubungan yang aman dapat memberikan ruang bagi seseorang untuk mandiri tanpa harus merasa bahwa kemandirian berarti kehilangan hubungan.
Mengapa Memberi Ruang Terkadang Tidak Mudah?
Bagi orang tua, keinginan untuk mengetahui keadaan anak sering kali muncul dari rasa peduli. Namun demikian, kekhawatiran dapat terasa semakin besar ketika anak mulai membuat keputusan sendiri, terutama jika keputusan tersebut berbeda dengan harapan orang tua.
Dalam situasi seperti ini, mungkin ada baiknya membedakan antara dua hal: ingin tetap terhubung dan ingin memastikan semuanya berjalan sesuai harapan.
Keduanya dapat terasa mirip, tetapi memiliki dampak yang berbeda dalam hubungan.
Terlalu banyak campur tangan dapat membuat anak merasa tidak dipercaya. Sebaliknya, memberikan kebebasan tanpa kehadiran juga dapat membuat hubungan terasa semakin jauh. Tantangannya mungkin terletak pada menemukan keseimbangan: tetap hadir tanpa harus selalu mengendalikan.
Menjadi Tempat untuk Kembali
Menjadi secure base tidak berarti orang tua harus selalu memberikan jawaban atau menyelesaikan setiap masalah anak.
Terkadang, kehadiran dapat muncul melalui hal-hal sederhana:
- mendengarkan sebelum memberikan pendapat;
- bertanya tanpa terasa menginterogasi;
- menghargai keputusan anak, meskipun tidak selalu setuju;
- tetap membuka ruang komunikasi ketika anak sedang menghadapi kesulitan.
Penelitian mengenai attachment pada masa dewasa juga menekankan pentingnya ketersediaan dan responsivitas dalam membangun rasa aman. Rasa aman dalam hubungan dapat mendukung kemampuan seseorang menghadapi tantangan dan berkembang secara mandiri.
Pada akhirnya, kedekatan dengan anak yang beranjak dewasa mungkin tidak lagi terlihat seperti dulu.
Hubungan dapat berubah bentuk. Anak mungkin membutuhkan lebih banyak ruang, memiliki kehidupan yang semakin mandiri, dan tidak selalu melibatkan orang tua dalam setiap keputusan.
Namun, ruang dan kedekatan tidak harus saling bertentangan.
Terkadang, mengetahui bahwa seseorang tetap memiliki tempat untuk kembali justru dapat memberikan keberanian untuk melangkah lebih jauh.
Bagi orang tua, mungkin pertanyaannya bukan lagi “Bagaimana agar anak tetap selalu dekat?”, melainkan:“Bagaimana agar hubungan ini tetap menjadi tempat yang aman, bahkan ketika anak semakin mandiri?”
Penulis: Bernadette Samuel Suriadji, M.Psi., Psikolog
Referensi
Bowlby, J. (1988). A secure base: Parent-child attachment and healthy human development. Basic Books.
Feeney, B. C., & Van Vleet, M. (2010). Growing through attachment: The interplay of attachment and exploration in adulthood. Journal of Social and Personal Relationships, 27(2), 226–234. https://doi.org/10.1177/0265407509360903
SOCIAL MEDIA
Let’s relentlessly connected and get caught up each other.
Looking for tweets ...