People Innovation Excellence

Ketika Anak Mengalami Kegagalan, Apa yang Dapat Dilakukan Orang Tua?

Ada pepatah mengatakan bahwa “kegagalan merupakan keberhasilan yang tertunda”. Pepatah tersebut mengartikan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Namun saat seseorang mengalami kegagalan dapat memunculkan ketidaknyamanan, antara lain frustrasi, sedih, rendah diri, menarik diri dari orang lain, dan sebagainya. 

Bagi anak yang sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi, pengalaman menghadapi kegagalan ini dapat menjadi tantangan tersendiri. Hal ini karena mereka masih berada dalam rentang usia remaja akhir menuju dewasa awal, sehingga mereka masih membutuhkan dukungan orang tua untuk membantunya dalam menghadapi kegagalan. Orang tua dapat mendampingi anak dalam mengembangkan resiliensi saat mengalami kegagalan. Hal ini bertujuan agar anak tidak hanya mampu melewati kegagalan, tetapi juga mampu mengambil pelajaran dan memiliki daya juang untuk bangkit kembali.  

Apa itu Resiliensi? 
Resiliensi merupakan proses dan hasil dari adaptasi yang berhasil dalam menghadapi pengalaman hidup yang sulit atau menantang, melalui fleksibilitas mental, emosional, dan perilaku. Selain itu, resiliensi juga merupakan proses dan hasil dari penyesuaian terhadap tuntutan internal dan eksternal. Anak yang memiliki resiliensi akan mampu untuk beradaptasi dan bangkit ketika menghadapi pengalaman hidup yang sulit maupun kegagalan. 

Bagaimana Peran Pola Asuh Orang Tua Memengaruhi Resiliensi Anak?
Parents, resiliensi anak dapat terbentuk karena ada beberapa faktor, salah satunya pola asuh dari orang tua. Pola asuh merupakan gambaran sikap dan perilaku orang tua bersama anak selama melakukan interaksi dan komunikasi dalam proses pengasuhan. Ternyata orang tua yang menunjukkan pola asuh demokratis dapat mendukung terbentuknya resiliensi pada anak. Hal ini karena orang tua yang demokratis memberikan tanggung jawab kepada anak dengan tidak melebihi batasan anak. Orang tua yang demokratis juga dapat mendukung anak untuk memahami dan menilai situasi sulit atau menantang menjadi suatu peluang atau bagian dari proses. 

Bagaimana Peran Orang Tua Untuk Mendukung Anak Resilien terhadap Kegagalan?
Situasi sulit atau tantangan dapat berupa kegagalan karena belum dapat memenuhi harapan diri anak atau orang lain. Saat anak mengalami kegagalan, berikut ini bentuk dukungan yang dapat dilakukan orang tua untuk anak: 

  • Menanyakan dan menerima perasaan anak. Anak dimungkinkan merasa kecewa, sedih, rendah diri, atau lainnya atas kegagalan yang dialami. Orang tua dapat bertanya dan menerima dengan hangat perasaan-perasaan tersebut tanpa menghakimi anak atas kegagalannya. 
  • Memfokuskan pada usaha yang sudah dilakukan anak. Anak sering kali fokus pada hasil yang belum terpenuhi sehingga lupa bahwa dirinya sudah berusaha. Orang tua dapat bertanya proses yang sudah dilalui anak, kemudian mengingatkan kembali usaha-usaha yang sudah dilakukan anak selama proses memenuhi harapan tersebut. 
  • Mendiskusikan kembali harapan selanjutnya yang realistis. Kegagalan dapat terjadi karena adanya tujuan yang terlalu tinggi sedangkan kondisi anak belum cukup memadai atau ada faktor eksternal di luar kendali anak. Orang tua dapat berdiskusi bersama anak untuk memodifikasi tujuan selanjutnya yang lebih realistis sesuai kondisi diri anak dan kemungkinan situasi eksternal yang akan terjadi, serta langkah-langkah konkret yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. 
  • Menawarkan bantuan kepada anak. Anak tetap dapat diberikan kesempatan untuk mengelola perasaan, mengatur kembali tujuan atau harapannya, dan melakukan usahanya secara mandiri. Di sisi lain, orang tua tetap dapat menawarkan bantuan sebagai bentuk bahwa orang tua hadir untuk mendampinginya dalam menghadapi proses selanjutnya. 
  • Mengajak anak mencari pembelajaran yang didapat. Meskipun mengalami kegagalan, biasanya tetap ada pembelajaran yang didapat oleh anak. Orang tua dapat mengajak anak untuk melihat kembali hikmah, pembelajaran, atau peluang dari pengalaman gagal yang sudah dialami. Hal tersebut dapat dijadikan motivasi dan salah satu antisipasi ke depannya agar tidak terulang kembali. 

 Penulis: Laras Yuliansyah, M.Psi., Psikolog 

 Referensi: 

  • Nashori, F, & Sputro I. (2021). Psikologi resiliensi. Yogyakarta, INA: Universitas Islam Indonesia 
  • The University of Pittsburgh. (2005). Child and adolescent development. Pennsylvania, PA: The Pennsylvania Child Welfare Training Program. 

Published at :

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close