Jadi Teman Cerita Ketika Anak Overthinking
Pada masa perkuliahan, mahasiswa mengalami masa transisi dari remaja menuju dewasa muda dimana mahasiswa menghadapi banyak perubahan seperti tuntutan akademik, relasi pertemanan, kemandirian, pencarian jati diri, hingga mulai memikirkan masa depan dan karier. Tidak heran jika berbagai hal tersebut dapat membuat anak merasa ragu-ragu, khawatir, dan terlalu banyak memikirkan sesuatu. Ketika anak bercerita tentang kekhawatiran atau overthinking-nya, salah satu hal berarti yang dilakukan orang tua adalah mendengarkan terlebih dahulu. Tidak selalu setiap cerita membutuhkan solusi cepat. Terkadang, anak hanya membutuhkan tempat yang aman untuk menceritakan isi pikirannya tanpa takut dihakimi.
Ada baiknya untuk menghindari respons seperti, “Gitu aja kok dipikirin?”, “Papa dulu juga pernah gitu tapi gak secemas kamu,” atau “Mama dulu lebih susah.” Meskipun mungkin bermaksud untuk menenangkan atau menguatkan, respons tersebut dapat membuat anak merasa bahwa kekhawatirannya tidak dipahami. Orang tua dapat mengganti dengan kalimat sederhana namun menenangkan seperti, “Kedengarannya kamu sedang kepikiran banyak hal, ya. Mau cerita?”, “Bagian mana yang paling bikin kamu khawatir?”, atau “Papa/Mama mungkin belum tentu punya jawabannya, tapi kita bisa coba pikirkan bersama.”
Setelah mendengarkan, orang tua dapat membantu anak melihat persoalan dengan lebih jernih dan dilanjutkan dengan memberikan saran yang relevan dengan kondisi anak saat ini, bukan hanya berdasarkan pengalaman orang tua di masa lalu. Orang tua juga dapat menanyakan jenis bantuan apa yang diharapkan sehingga membuat anak merasa lebih tenang dan terbantu. Pada masa dewasa muda, dukungan orang tua tetap penting, tetapi anak juga sedang belajar mengambil keputusan dan menjadi lebih mandiri. Pada akhirnya, orang tua juga tetap dapat memberi ruang untuk menenangkan dirinya dan memberi ruang untuk mengambil keputusan.
Menjadi orang tua bukan berarti harus selalu punya semua jawaban. Menjadi tempat anak bercerita, mendengarkan tanpa menghakimi, membantu memilah mana yang bisa dikendalikan dan mana yang tidak, lalu menemani anak mencari langkah berikutnya sudah merupakan bentuk dukungan yang sangat berarti. Bagi anak yang sedang overthinking, memiliki orang tua yang membuatnya merasa “Aku boleh cerita di sini” dapat menjadi salah satu sumber rasa aman dan sumber dukungan yang penting dalam menghadapi transisi menuju masa dewasa.
Penulis:
Rosa Virginia Kartikarini, M. Psi., Psikolog
Published at :
SOCIAL MEDIA
Let’s relentlessly connected and get caught up each other.
Looking for tweets ...