High School to University: Apa yang Berubah dalam Diri Anak?
Memasuki perguruan tinggi merupakan salah satu perubahan besar dalam kehidupan seorang anak. Setelah bertahun-tahun menjalani rutinitas sekolah dengan jadwal yang relatif terstruktur, arahan guru, serta keterlibatan orangtua yang cukup besar, anak mulai memasuki lingkungan yang menuntut lebih banyak kemandirian.
Bagi orangtua, perubahan ini terkadang terlihat sederhana yaitu anak hanya berpindah dari sekolah ke universitas. Bagi anak, transisi tersebut dapat membawa perubahan dalam banyak aspek sekaligus mulai dari cara belajar, membangun relasi, mengelola emosi, hingga mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri. Penelitian mengenai transisi ke perguruan tinggi menunjukkan bahwa penyesuaian mahasiswa tidak hanya berkaitan dengan akademik, tetapi juga mencakup aspek sosial, personal-emosional, serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan baru.
- Dari “diajarkan” menjadi “mengelola proses belajar sendiri”
Di sekolah, anak umumnya terbiasa dengan jadwal pelajaran yang jelas, tugas yang diberikan secara berkala, serta guru dan orangtua yang dapat membantu memantau proses belajarnya. Di universitas, struktur tersebut mulai berubah. Mahasiswa memiliki tanggung jawab yang lebih besar untuk memahami materi, mengatur jadwal, menentukan prioritas, mempersiapkan ujian, menyelesaikan tugas, dan mencari bantuan ketika mengalami kesulitan. Oleh karena itu, anak yang sebelumnya berprestasi di sekolah belum tentu langsung merasa percaya diri di perguruan tinggi. Bukan berarti kemampuannya menurun, tetapi standar dan cara belajar yang dihadapi memang berbeda.
Orangtua dapat membantu dengan mengubah pertanyaan dari “Sudah belajar belum?” menjadi “Bagaimana cara kamu mengatur waktu untuk minggu ini?”, dengan demikian, fokus bergeser dari mengawasi hasil menjadi membantu anak mengembangkan kemampuan mengelola prosesnya sendiri.
- Dari lingkungan sosial yang familiar menjadi lingkungan yang lebih beragam
Masuk universitas juga berarti memasuki lingkungan sosial yang baru. Anak mungkin bertemu teman dengan latar belakang, karakter, budaya, dan cara berpikir yang berbeda. Mereka juga mulai membentuk kelompok pertemanan yang lebih banyak dipilih berdasarkan minat dan nilai pribadi. Bagi sebagian mahasiswa, proses ini menyenangkan. Namun bagi sebagian lainnya, membangun pertemanan baru dapat menjadi tantangan. Penelitian menunjukkan bahwa mempertahankan hubungan sosial yang positif sekaligus membangun kelompok sosial baru dapat mendukung kesejahteraan mahasiswa selama masa transisi.
Oleh karena itu, jika anak membutuhkan waktu untuk menemukan lingkungan sosial yang nyaman, orangtua tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa anak “tidak bisa bergaul”. Penting bagi orangtua memastikan anak memiliki kesempatan untuk terhubung dengan orang lain dan mengetahui bahwa mencari bantuan ketika mengalami kesulitan merupakan hal yang wajar.
- Emosi menjadi lebih kompleks
Masa awal kuliah dapat diwarnai berbagai emosi yang muncul bersamaan: senang karena mendapatkan kebebasan, bangga karena memasuki tahap baru, tetapi juga cemas, bingung, kesepian, atau takut gagal. Penelitian menunjukkan bahwa transisi dari high school ke college dapat menjadi periode yang rentan secara sosial dan emosional bagi sebagian mahasiswa. Tekanan akademik, lingkungan sosial yang baru, meninggalkan rumah, serta kekhawatiran mengenai masa depan dapat menjadi sumber stres.
Hal ini penting untuk dipahami karena anak mungkin tidak selalu menunjukkan kesulitannya secara langsung. Ada mahasiswa yang tetap terlihat aktif dan mampu menjalankan rutinitasnya, tetapi sebenarnya sedang berusaha keras untuk menyesuaikan diri. Orangtua tidak harus selalu memiliki solusi. Terkadang, menjadi tempat yang aman untuk bercerita sudah merupakan bentuk dukungan yang sangat berarti.
- Dari keputusan orangtua menjadi keputusan anak
Salah satu perubahan terbesar dalam masa kuliah adalah meningkatnya tanggung jawab pribadi. Anak mulai menghadapi keputusan yang sebelumnya lebih banyak dibantu atau ditentukan oleh orangtua: bagaimana menggunakan waktu, mengatur pengeluaran, memilih pertemanan, menentukan kegiatan, menghadapi konflik, hingga menentukan arah masa depan.
Pada tahap ini, peran orangtua perlahan bergeser dari decision maker menjadi support system. Bukan berarti orangtua berhenti peduli atau tidak boleh memberikan arahan. Anak tetap membutuhkan dukungan tetapi dengan ruang yang lebih besar untuk mencoba, membuat kesalahan, mengevaluasi pilihan, dan belajar bertanggung jawab.
Referensi
- American Psychological Association. (2026). How to support young people on the road to adulthood. APA Monitor on Psychology.
- Olson, J. S. (2017). Moving up, feeling down: Socioemotional health during the transition into college. Longitudinal and Life Course Studies, 8(3), 245–261.
Published at :
SOCIAL MEDIA
Let’s relentlessly connected and get caught up each other.
Looking for tweets ...