Mengantar Anak Memasuki Dunia Perkuliahan
Memasuki dunia perkuliahan adalah langkah baru dalam kehidupan anak. Ia memasuki dunia baru yang mungkin ia nanti-nantikan. Selain perasaan bangga diterima di universitas, ada berbagai perubahan besar yang perlu dihadapi seperti: lingkungan baru, sistem belajar yang berbeda, tuntutan kemandirian yang lebih tingi, dan pertemanan yang lebih luas. Pada masa transisi ini, sangat dimungkinkan untuk anak merasa semangat namun disaat yang bersamaan mereka merasa cemas.
Pada masa transisi ini, tidak hanya anak yang beradaptasi namun orang tua juga mengalami transisi. Peran yang sebelumnya banyak mengarahkan, saat ini berubah perlahan menjadi peran mendampingi bahkan lebih memberikan ruang kemandirian untuk anak. Keberhasilan mahasiswa baru bukan hanya ditentukan karena kemampuan akademiknya, namun juga kualitas dukungan orang tua kepada mereka. Salah satu bentuk dukungan yang berpengaruh adalah dukungan emosional.
Anak yang merasa didengarkan, dipahami, diterima oleh orang tuanya cenderung memiliki kesejahteraan psikologis dan kemampuan beradaptasi yang baik di lingkungan kampus. Komunikasi yang hangat antara orang tua dan anak, dapat membentuk tempat aman bagi anak agar mereka tetap terbuka untuk menceritakan kesulitan atau tantangan dalam dunia perkuliahannya. Pada masa ini, orang tua juga perlu menghindari kontrol yang berlebihan. Mereka membutuhkan kepercayaan bahwa mereka bisa menghadapi tantangan di lingkungan kehidupan kampus, dibandingkan langsung diberikan solusi. Memasuki dunia perkuliahan, mahasiswa akan belajar mengambil keputusan dan bertanggung jawab atas pilihannya. Arahan dari orang tua tetap boleh diberikan, namun anak perlu terlibat dalam pengambilan keputusan.
Selanjutnya, membangun ekspektasi yang realistis juga penting. Pada tahun pertama perkuliahan sangat wajar bila mahasiswa bingung, mengalami kesulitan beradaptasi, dan belum memperoleh hasil akademik yang optimal. Pengertian dari orang tua, sangat diperlukan dalam masa ini, sambil perlahan memberikan saran dan semangat kembali kepada anak.
Pada masa perkuliahan, orang tua juga berperan untuk memperhatikan kondisi kesehatan mental anak. Perubahan perilaku yang signifikan, motivasi yang menurun, stress yang berkepanjangan, hingga menarik diri dari lingkungan merupakan tanda-tanda yang perlu ditindaklanjuti. Bila diperlukan, orang tua dapat mendorong anak untuk menggunakan layanan konseling yang tersedia di kampus.
Akhirnya, dalam masa memasuki dunia perkuliahan ini orang tua tetap memiliki peran untuk memberikan dukungan emosional bagi anak. Orang tua hadir sebagai pendengar, pendorong, pemberi kepercayaan, dan sumber dukungan yang membantu anak menghadapi masa adaptasi di dunia perkuliahan. Dukungan-dukungan dari orang tua tersebutlah yang juga akan menjadi sumber kepercayaan diri anak untuk mengarungi dunia perkuliahannya.
By : -Rosa Virginia Kartikarini, M.Psi., Psikolog-
Refrensi:
- Purnamasari, H., Kurniawati, F., & Rifameutia, T. (2022). Systematic Review: A Study of College Adjustment Among First-Year Undergraduates. Buletin Psikologi.
- Khan, A., & Jahan, M. (2023). Perceived Parental Autonomy Support as Predictor of Psychological Well-Being among Undergraduate Students. International Journal of Indian Psychology.
- Bakker, A. B., & Mostert, K. (2024). Study Demands–Resources Theory: Understanding Student Well-Being in Higher Education. Educational Psychology Review.
SOCIAL MEDIA
Let’s relentlessly connected and get caught up each other.
Looking for tweets ...