People Innovation Excellence

Kenali Empty Nest pada Orang Tua dan Cara Menghadapinya

Apa itu empty nest?

Orang tua yang mulai memasuki usia paruh baya memiliki tantangan tersendiri karena adanya perubahan fisik dan peran yang memengaruhi kondisi psikologis. Salah satu kondisi yang mungkin dihadapi orang tua yaitu empty nest. Empty nest merupakan fase transisi dalam kehidupan berkeluarga ketika anak-anak pindah dan meninggalkan rumah orang tua mereka untuk beberapa alasan, misalnya untuk melanjutkan pendidikan, bekerja, atau menikah. Kondisi tersebut biasanya terjadi di usia orang tua paruh baya, yaitu 40-an hingga 60-an tahun, karena anak sudah mulai beranjak dewasa dan meninggalkan rumah untuk melanjutkan kehidupan masing-masing.

Bagaimana tanda-tanda empty nest?

Selama 6-12 bulan fase transisi anak meninggalkan rumah, orang tua dimungkinkan merasakan kesedihan, kekosongan, dan kesepian. Hal tersebut menandakan bahwa empty nest yang dialami orang tua masih bersifat normal. Namun, apabila selama 2 tahun berjalan dan orang tua belum dapat beradaptasi dengan kondisi anak meninggalkan rumah, maka orang tua rentan mengalami empty nest syndrome, yaitu respon maladaptif terhadap masa transisi yang menyebabkan seseorang tersebut mengalami gejala sebagai berikut:

  • Mengalami perubahan emosi secara berlebihan, antara lain kesedihan, kecemasan, kesepian, kehampaan, mudah tersinggung, atau emosi lainnya.
  • Mudah mengalami stress.
  • Kehilangan identitas atau jati diri dan memiliki harga diri yang rendah sebagai orang tua karena peran orang tua dinilai sudah berakhir sejak anak meninggalkan rumah.
  • Mengalami perubahan gejala fisik akibat kondisi psikologis yang dialami setelah anak meninggalkan rumah, seperti rentan sakit, sulit tidur, berkurangnya napsu makan, atau mudah lelah.

Apa dampak empty nest pada orang tua?

Empty nest sering kali identik dengan dampak negatif yang dialami orang tua, seperti risiko terhadap stres, depresi, hingga kecemasan. Orang tua yang memiliki kecemasan berlebih saat berpisah dengan anak sebagai figur lekatnya, orang tua akan menganggap perpisahan sebagai ancaman dan mencari cara untuk menjangkau anak. Jika anak tidak dapat merespon kebutuhan orang tua dengan baik, maka akan muncul perasaan tidak aman pada orang tua yang digambarkan dengan peningkatan stres.

Ternyata, kondisi empty nest dapat berdampak positif juga lho, antara lain:

  • Dapat meningkatkan kualitas hidup pada ibu. Misalnya, pada ibu yang bekerja dapat melanjutkan karier serta pendidikannya dengan cara mengikuti kursus keterampilan atau melanjutkan pekerjaan yang dahulu ditinggalkan karena harus merawat anak. Selain itu, ibu juga dapat menekuni hobi dan dapat lebih bebas melakukan kegiatan apapun.
  • Dapat meningkatkan keintiman, waktu berkualitas, dan kepuasan pernikahan bersama suami/istri. Hal ini karena sebagian besar waktu yang dihabiskan bersama pasangan menjadi lebih banyak karena ketidakadaan anak di rumah.
  • Orang tua memiliki perasaan bangga dan bahagia setelah melepas kepergian anaknya karena melihat anaknya menjadi pribadi yang mandiri dan dewasa.

Bagaimana cara menghadapinya jika Parents sudah mulai mengalami empty nest syndrome?

  • Membangun kembali hubungan bersama pasangan. Pasangan menjadi salah satu orang terdekat untuk menghabiskan waktu bersama di rumah. Melakukan kegiatan bersama pasangan, seperti bercerita, menonton, atau berlibur, dapat membantu mengatasi kesedihan, kekosongan, dan kesepian saat anak meninggalkan rumah.
  • Fokus pada melakukan aktivitas perawatan diri dan hobi yang diminati. Saat anak sudah tidak tinggal di rumah merupakan kesempatan bagi Parents mencoba fokus pada diri sendiri dengan menjaga pola makan sehat, olahraga rutin, tidur yang cukup, melakukan aktivitas baru yang belum pernah dicoba, melakukan aktivitas yang diminati, atau melakukan kegiatan sosial di luar rumah.
  • Tetap terhubung dengan anak. Selain dapat mengetahui kabar dan kondisi anak saat ini, Parents juga dapat mengobati kerinduan kepada anak dengan menghubunginya melalui telepon suara, chat, atau video call.
  • Merencanakan waktu bersama keluarga. Ada kalanya merencanakan waktu liburan keluarga atau mengunjungi tempat anak juga diperlukan. Meskipun demikian, tetap perlu memberikan privasi dan berdiskusi bersama anak saat merencanakannya ya,
  • Meminta dukungan dari orang sekitar atau profesional. Kehadiran orang terdekat bagi orang tua juga dapat membantu mengatasi empty nest yang dialami, misalnya teman lama, tetangga, rekan kerja, atau lainnya. Jika orang tua merasa membutuhkan bantuan profesional, seperti psikolog atau psikiater, hal tersebut juga dapat membantu. Dengan meminta bantuan profesional, bukan berarti Parents lemah, melainkan bentuk perjuangan Parents agar dapat kembali menjalani aktivitas keseharian dengan lebih optimal.

Penulis: Laras Yuliansyah, M.Psi., Psikolog

Referensi:


Published at :

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close