Peran Orang Tua dalam Mendampingi Mahasiswa Merantau
Memasuki perguruan tinggi atau universitas di luar daerah tempat tinggal sering kali menjadi pilihan anak untuk berkuliah. Hal tersebut membuat anak merantau ke daerah atau negara lain sesuai tujuan universitas atau perguruan tingginya. Di BINUS University terdapat salah satu program Mobility, yaitu program pembelajaran lintas kampus yang memungkinkan mahasiswa dapat berkuliah selama 1 tahun di area kampus BINUS lainnya. Misalnya, Erika terdaftar sebagai mahasiswa Computer Science di BINUS Jakarta. Selama 2 tahun pertama, Erika wajib mengikuti perkuliahan selama 2 tahun di kampus asalnya (Jakarta). Tahun berikutnya, Erika dapat mengikuti pembelajaran di kampus BINUS di kota lain, seperti Bandung, Malang atau Semarang dengan mengikuti berbagai program di tahun ketiganya. Berdasarkan kondisi tersebut, jika mahasiswa pada awalnya mendaftar kuliah di BINUS daerah asal dan mengikuti program Mobility, maka memungkinkan mahasiswa merantau ke kampus lain di luar daerah asal. Selain Mobility Program, ada pula program Study Abroad yang memungkinkan mahasiswa untuk mengikuti perkuliahan di luar negeri selama 2 semester.
Ada beberapa tantangan yang perlu dihadapi saat anak merantau untuk berkuliah. Selain tantangan dalam penyesuaian akademiknya, berikut ini beberapa tantangan yang akan dihadapi anak perantau saat berkuliah:
- Adanya rasa kesepian karena mengalami perpisahan dengan orang yang disayangi di daerah asal, seperti orang tua atau teman-teman. Hal tersebut menyebabkan anak mengalami homesick, yaitu perasaan rindu yang mendalam terhadap orang-orang dari lingkungan asal.
- Mengalami culture shock jika tidak mampu beradaptasi di daerah universitas, seperti budaya, bahasa, agama, dan norma sosial. Reaksi yang dapat dimunculkan, seperti kebingungan, frustrasi, kecemasan, atau menutup diri dari lingkungan.
- Anak perlu belajar Saat masih tinggal bersama orang tua, anak masih dapat dibantu oleh orang tua. Namun saat anak sudah merantau, anak dituntut untuk dapat lebih mandiri, seperti dalam mengatur waktu dan keuangan, serta pengambilan keputusan.
Tentu saja dari Parents juga memiliki tantangan untuk mempersiapkan diri anak sebelum merantau, terutama terkait dengan kemandirian anak. Hal ini karena anak akan lebih banyak melakukan semuanya secara mandiri, seperti pengambilan keputusan, mengatur prioritas, mengatur keuangan, dan menjaga kesehatan. Oleh karena itu, orang tua perlu melibatkan anak dalam aktivitas sehari-hari, misalnya meminta anak menentukan makanan yang ingin dimakan saat bepergian bersama keluarga, memintanya mengatur jadwal keseharian dari yang paling penting hingga dapat ditunda terlebih dulu, mengajarinya menabung dan membeli barang sesuai kebutuhan, serta membiasakan anak untuk hidup sehat.
Jika anak sudah lebih siap merantau untuk berkuliah, Parents juga tetap perlu mendampinginya karena anak tetap membutuhkan support system dari orang tua. Berikut ini beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mendampingi anak merantau.
- Tetapkan jadwal komunikasi rutin bersama anak agar anak tidak merasa sendiri dan kesepian. Teknologi yang semakin berkembang memudahkan orang tua berkomunikasi meskipun jarak jauh. Orang tua dapat chat, telepon suara, dan video call bersama anak sesuai jadwal yang disepakati bersama anak. Meskipun begitu, Parents juga tetap perlu fleksibel jika di waktu tertentu anak menjadi sulit dihubungi, misalnya saat ada banyak tugas, periode ujian, atau ada kegiatan organisasi.
- Memberikan ruang kepada anak untuk bercerita dan menawarkan bantuan saat anak merasa kesulitan. Selama berkomunikasi, orang tua dapat menanyakan dengan rasa empati dan mendengarkan tanpa penilaian mengenai keseharian anak selama berkuliah dan di luar perkuliahan. Jika anak belum mau bercerita, tetap berikan kepercayaan kepada anak untuk bereksplorasi dan menawarkan bantuan jika anak mengalami kesulitan.
- Memberikan dukungan dan motivasi sesuai kebutuhan anak. Orang tua perlu memahami waktu dan situasi saat memberikan dukungan dan motivasi kepada anak, sehingga tidak terlalu sering dilakukan agar anak tidak merasa bosan karena merasa “dinasihati”. Saat memberikan dukungan dan motivasi kepada anak, orang tua dapat mencoba merefleksikan dari perilaku yang ditampilkan anak, misalnya saat anak terlihat lebih murung dari biasanya. Orang tua dapat menanyakan “mama/papa melihat kamu banyak diam saat video call, apa ada masalah?”. Setelah itu, orang tua dapat memberikan semangat dan pesan yang menunjukkan kepedulian, tanpa disertai nasihat yang panjang atau kalimat yang terkesan memojokkan anak.
- Berkunjung ke tempat anak jika memungkinkan. Kunjungan orang tua ke tempat rantauan anak dapat membuat anak merasa diperhatikan dan tidak sendiri, serta membantu anak merasakan kembali kehadiran seseorang dari daerah asalnya. Saat berkunjung, orang tua dapat membawakan hadiah sederhana, seperti makanan/minuman kesukaan dan barang yang dibutuhkan anak.
Anak yang berkuliah jauh dari rumah merupakan suatu peluang bagi mereka untuk bereksplorasi dan mengembangkan diri secara mandiri. Parents dapat tetap mendampingi dengan memberikan ruang, tanpa harus selalu mengaturnya karena anak sudah menjadi mahasiswa.
Penulis: Laras Yuliansyah, M.Psi., Psikolog
Referensi:
- Edra, R. (2022). Anak butuh persiapan merantau? Biasakan 7 hal Ini agar ia mandiri. Retrieved from https://www.ruangguru.com/blog/persiapan-anak-merantau
- Hapasari, A. T., Santoso, B., & Diandra, F. P. (2024). Fenomena culture shock pada mahasiswa perantauan di Yogyakarta. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Media Sosial, 4(2), pp. 557-565, doi: https://doi.org/10.47233/jkomdis.v4i2.1874
- (2025). 7 tips menjaga komunikasi dengan anak yang sedang merantau untuk kuliah. Retrieved from https://sinotif.com/7-tips-menjaga-komunikasi-dengan-anak-yang-sedang-merantau-untuk-kuliah/
- Ulum, W. (2025). Tantangan yang sering dialami mahasiswa perantau. Retrieved from https://stekom.ac.id/artikel/tantangan-yang-sering-dialami-mahasiswa-perantau
- Ummah, A. K., & Murdiana S. (2024). Gaya kelekatan dan kesepian pada mahasiswa perantau. Psikobuletin: Buletin Ilmiah Psikologi, 5(2), pp. 8-15, doi: https://doi.org/10.24014/pib.v5i1.23314
Published at :
SOCIAL MEDIA
Let’s relentlessly connected and get caught up each other.
Looking for tweets ...