Kenali Perbedaan Overthinking, Burnout, atau Malas pada Mahasiswa
Tidak sedikit orangtua yang bingung melihat anaknya tampak “tidak produktif”, misalnya menunda tugas, sulit fokus, atau sering terlihat lelah. Pertanyaannya apakah ini karena malas, burnout, atau justru overthinking? Ketiganya sering terlihat mirip di permukaan, tetapi memiliki penyebab dan cara penanganan yang berbeda.
Mengapa penting dibedakan?
Memberi label yang keliru dapat berdampak pada respons yang tidak tepat. Anak yang sebenarnya kelelahan bisa dianggap tidak disiplin, sementara anak yang sedang cemas bisa didorong terlalu keras. Amat penting bagi orangtua memahami akar masalah agar dapat memberikan bantuan dan dukungan yang efektif.
- Overthinking: Terlalu Banyak Berpikir atau Terlalu Sedikit Bertindak
Overthinking terjadi ketika seseorang terus-menerus memikirkan sesuatu secara berlebihan. Hal yang dipikirkan biasanya berkaitan dengan kekhawatiran, ketakutan gagal, atau skenario terburuk.
Ciri-ciri umum yang biasanya tampak yaitu:
- Sulit memulai tugas karena terlalu banyak pertimbangan
- Takut salah atau perfeksionis
- Menghabiskan waktu untuk “memikirkan” daripada “melakukan”
Akibatnya, anak terlihat menunda pekerjaan, padahal sebenarnya sedang “terjebak” dalam pikirannya sendiri. Ini sering disalahartikan sebagai kemalasan, padahal sumbernya adalah kecemasan.
2. Burnout: Kelelahan yang Berkepanjangan
Burnout adalah kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik akibat stres yang berlangsung lama. Menurut World Health Organization (WHO), burnout ditandai oleh kelelahan ekstrem (energi terkuras), sinisme atau menjauh dari aktivitas (misalnya kuliah terasa hambar), dan penurunan efektivitas diri. Ciri khas burnout yaitu ingin mengerjakan tugas, tetapi tidak punya energi. Selain itu mahasiswa juga tampak mudah lelah bahkan untuk hal sederhana serta motivasi menurun setelah sebelumnya sempat tinggi. Berbeda dengan malas, burnout justru sering dialami oleh individu yang sebelumnya rajin dan berusaha keras.
- Malas: Tidak Ada Dorongan untuk Bertindak
Malas lebih merujuk pada kondisi ketika seseorang sebenarnya mampu melakukan sesuatu, tetapi tidak memiliki keinginan untuk melakukannya.
Ciri-ciri umum:
- Menghindari tugas tanpa rasa tertekan
- Lebih memilih aktivitas yang menyenangkan
- Tidak ada kelelahan emosional yang signifikan
Perbedaan paling sederhana burnout dengan malas, pada burnout: “Saya ingin, tapi tidak bisa.” Sedangkan malas: “Saya bisa, tapi tidak mau.”
Cara Sederhana Membedakan di Rumah
Orangtua dapat mulai dengan observasi dan percakapan ringan:
- Tanya perasaan, bukan hanya hasil
“Kamu lagi capek atau lagi bingung mulai dari mana?”
- Perhatikan pola energi
Jika anak terus-menerus kelelahan kemungkinan tanda burnout. Jika aktif di hal lain tapi menghindari tugas bisa jadi malas
- Lihat reaksi emosional
Overthinking biasanya disertai cemas. Burnout disertai lelah dan jenuh, sedangkan malas cenderung netral atau santai
Peran Orangtua: Memberi dukungan, Bukan Menghakimi
Daripada langsung menilai, orangtua dapat menjadi “ruang aman” untuk anak bercerita. Dukungan sederhana seperti mendengarkan tanpa menghakimi, membantu memecah tugas kecil, atau mengingatkan untuk istirahat bisa sangat berarti. Memahami bahwa tidak semua “tidak produktif” adalah kemalasan akan membantu orangtua merespons dengan lebih empatik. Pada akhirnya, anak tidak hanya butuh dorongan untuk maju, tetapi juga memiliki pemahaman ketika bahwa anak sedang berjuang.
Daftar Pustaka
- Babajide, O. (2026). Burnout vs Laziness: Symptoms, Causes, and Long-Term Health Effects. The Health Pulse.
- TOI Lifestyle Desk. (2025). Burnout vs laziness: How to tell the difference. Times of India.
- Vance, E. (2025). Burnout vs. Stress vs. Laziness: A Guide. BurnoutTest.org.
Oleh : Claudia Margaretha, M.Psi., Psikolog
Published at :
SOCIAL MEDIA
Let’s relentlessly connected and get caught up each other.
Looking for tweets ...