People Innovation Excellence

Anak Tidak Mau Bercerita: Apa Sebab dan Solusi bagi Orang tua?

Seiring dengan tahap perkembangannya, kemampuan dan proses berpikir anak di usia remaja sudah lebih berkembang, seperti dapat berpikir suatu konsep yang abstrak dan menarik kesimpulan. Hal tersebut membantu anak berpendapat sesuai pemikirannya. Walaupun demikian, realitanya komunikasi ini tidak selalu berjalan lancar, karena perbedaan gaya komunikasi dengan orang tua. Kondisi ini menyebabkan orang tua sering mulai kebingungan mengenai cara untuk berkomunikasi dengan anak di usia remaja. Orang tua juga sering mengeluhkan bahwa anaknya tertutup dan tidak mau bercerita kepada orang tuanya ketika sudah beranjak remaja, seperti tentang akademik, pertemanan, dan kehidupan pribadi lainnya. Hal ini parents mungkin sering alami dalam menghadapi dan berkomunikasi dengan anak-anak sehari-hari.

Parents, berikut beberapa hal yang dapat menyebabkan anak di usia remaja kurang mau terbuka kepada orang tua:

  • Adanya pola komunikasi yang tidak memberikan rasa aman dan nyaman sejak kecil.

Saat anak bercerita, orang tua sering secara tidak sadar meresponnya dengan nasihat panjang, membandingkan dengan pengalaman orang tua atau orang lain di sekitar, mengabaikan perasaan anak, atau menceritakan kembali ke orang lain. Hal tersebut dapat membuat anak merasa takut dihakimi dan disalahkan, atau berkurangnya kepercayaan kepada orang tua, sehingga membuat anak lebih memilih untuk diam dan tidak bercerita.

  • Ketidakhadiran secara emosional.

Saat anak bercerita, mereka butuh didengarkan. Orang tua sering hadir secara fisik namun tidak betul-betul mendengarkan dan memahami cerita anak. Orang tua terkadang mendengarkan namun sambil melakukan aktivitas lain atau pikiran tidak tertuju langsung pada anak sehingga membuat orang tua merespon kurang tepat, misalnya menasihati, menyalahkan, membandingkan, atau lainnya. Pada akhirnya, anak merasa tidak didengarkan dan dipahami secara utuh yang membuat anak menjadi enggan bercerita kepada orang tua.

  • Remaja merasa dirinya sudah harus mandiri.

Anak remaja sering merasa dirinya sudah besar dan mandiri, padahal usia remaja masih membutuhkan pendampingan orang tua. Hal tersebut membuat anak mencoba menyelesaikan permasalahannya sendiri tanpa bercerita kepada orang tua karena mereka berpikir sudah mampu.

  • Remaja tidak ingin menambah beban pikiran orang tua.

Rasa empati dan kemampuan dalam menyimpulkan di usia remaja sudah semakin berkembang, meskipun kesimpulannya belum disertai pertimbangan yang matang karena sering dipengaruhi faktor emosional. Anak bisa jadi merasa tidak ingin menambah beban orang tuanya yang sudah sibuk bekerja atau mengurus keperluan keluarga, sehingga lebih memilih menutup diri dibandingkan menceritakan permasalahannya. Padahal hal tersebut belum tentu dirasakan para orang tua.

____

Namun jangan khawatir parents, kita tetap dapat mengusahakan untuk dapat membuat anak remaja mau bercerita kepada kita sebagai orang tua.  Parents dapat mencoba melakukan beberapa hal berikut ini agar dapat memperbaiki komunikasi dengan anak-anak remaja kita:

  • Hadir secara penuh saat berinteraksi dengan anak.

Ketika berkomunikasi, usahakan fokus tertuju pada anak dan tidak sambil melakukan aktivitas lain, seperti bermain handphone, melakukan pekerjaan rumah dan kantor, atau lainnya. Hal ini dapat membantu anak merasa diperhatikan dan dianggap penting.

  • Mencoba memahami dengan bertanya dan klarifikasi.

Saat anak bercerita, orang tua perlu melibatkan pancaindera agar dapat memahami informasi yang disampaikan anak secara verbal dan nonverbal (gerak tubuh, ekspresi wajah, volume suara). Jika ada yang belum dipahami, orang tua perlu bertanya dan mengklarifikasi maksud anak sehingga orang tua tidak berasumsi. Dengan begitu, anak merasa dipahami dan diterima.

  • Memberi rasa aman dan menawarkan bantuan.

Orang tua perlu menghindari nasihat panjang serta kalimat berupa kritik, menyalahkan, menuntut, atau merendahkan, seperti “kamu sih…” atau “seharusnya kamu…”. Hal ini agar anak tidak merasa dihakimi dan memberikan ruang aman untuk bercerita. Jika anak belum bersedia bercerita, orang tua dapat menyampaikan bahwa orang tua akan ada jika anak membutuhkan bantuan.

  • Membangun obrolan ringan dalam keseharian.

Keterbukaan dan kepercayaan anak pada orang tua membutuhkan proses. Orang tua dapat memulai obrolan ringan, candaan, dan perhatian kecil sehari-sehari, seperti bertanya “ada kejadian apa hari ini?” atau “bagaimana perasaanmu saat mendapat nilai A di kuliah?”, serta menyampaikan perbedaan pada anak dengan berkata “papa lihat kamu lebih diam hari ini, ada yang mau diceritakan?”.

Selamat mencoba ya, Parents.

Penulis: Laras Yuliansyah, M.Psi., Psikolog

Referensi:


Published at :

Periksa Browser Anda

Check Your Browser

Situs ini tidak lagi mendukung penggunaan browser dengan teknologi tertinggal.

Apabila Anda melihat pesan ini, berarti Anda masih menggunakan browser Internet Explorer seri 8 / 7 / 6 / ...

Sebagai informasi, browser yang anda gunakan ini tidaklah aman dan tidak dapat menampilkan teknologi CSS terakhir yang dapat membuat sebuah situs tampil lebih baik. Bahkan Microsoft sebagai pembuatnya, telah merekomendasikan agar menggunakan browser yang lebih modern.

Untuk tampilan yang lebih baik, gunakan salah satu browser berikut. Download dan Install, seluruhnya gratis untuk digunakan.

We're Moving Forward.

This Site Is No Longer Supporting Out-of Date Browser.

If you are viewing this message, it means that you are currently using Internet Explorer 8 / 7 / 6 / below to access this site. FYI, it is unsafe and unable to render the latest CSS improvements. Even Microsoft, its creator, wants you to install more modern browser.

Best viewed with one of these browser instead. It is totally free.

  1. Google Chrome
  2. Mozilla Firefox
  3. Opera
  4. Internet Explorer 9
Close