Waktu Luang Bersama Anak Mahasiswa: Bukan Lagi Tentang Banyaknya, Tapi Kualitasnya
Seiring bertambahnya usia anak dan kesibukan kuliah yang semakin menuntut, banyak orangtua merasa kesulitan mencari waktu untuk tetap terhubung secara emosional dengan anak mereka. Padahal, justru di masa perkuliahan inilah anak sangat membutuhkan dukungan emosional dari keluarga, terutama dari orangtua sebagai fondasi yang stabil dalam menghadapi tantangan hidup dewasa awal.
Perlu orangtua ketahui berbeda dari masa anak-anak, bentuk kedekatan antara orangtua dan anak di usia mahasiswa tidak lagi terwujud dalam waktu yang banyak atau aktivitas yang rutin setiap hari. Kedekatan kini dibangun dari kualitas waktu yaitu merujuk pada seberapa hadir orangtua secara emosional, bukan seberapa sering mereka ada secara fisik.
Mengapa Waktu Berkualitas Itu Penting?
Menurut penelitian dari Journal of Family Psychology, keterlibatan emosional orangtua meskipun dalam waktu singkat dapat berdampak positif terhadap kesejahteraan psikologis anak dewasa muda (Levin & Currie, 2010). Anak yang merasa didengar dan didukung oleh orangtua cenderung memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi, manajemen stres yang lebih baik, serta lebih siap menghadapi tekanan akademik dan sosial.
Berbeda dengan masa remaja, mahasiswa berada dalam fase “emerging adulthood” (dewasa awal) masa eksplorasi identitas, relasi, dan arah hidup. Dalam fase ini, anak tidak hanya membutuhkan arahan, tetapi juga pendampingan yang menghargai proses berpikir dan pilihannya. Di sinilah peran orangtua berubah yaitu dari pengasuh menjadi mitra tumbuh.
Cara Sederhana Mengisi Waktu Berkualitas Bersama
Berikut beberapa contoh aktivitas ringan yang dapat menjadi momen berharga, meskipun dilakukan dalam waktu singkat:
1. Berbincang-bincang Tanpa Agenda
Kadang yang anak butuhkan hanya obrolan ringan sambil minum teh, atau duduk di ruang tamu tanpa harus membicarakan hal “penting.” Orangtua bisa mulai dengan pertanyaan sederhana seperti, “Gimana harimu?” atau “Apa hal seru minggu ini?”
2. Makan Bersama di Tengah Kesibukan.
Sekali seminggu, cobalah makan bersama tanpa distraksi gawai. Aktivitas sederhana ini meningkatkan ikatan orangtua dengan anak dan menjadi ruang anak merasa diperhatikan tanpa merasa diawasi.
3. Berbagi Cerita, Bukan Sekadar Memberi Nasihat.
Anak seringkali ingin tahu bahwa orangtuanya juga pernah mengalami masa sulit. Berbagi kisah pribadi bisa menciptakan koneksi emosional yang lebih dalam dan membuat anak merasa tidak sendirian.
4. Tradisi Kecil Keluarga.
Bangun kebiasaan ringan seperti video call malam minggu, kirim meme lucu di tengah minggu, atau tradisi “update satu hal” setiap hari Jumat. Hal-hal kecil ini bisa menjadi pengikat emosional yang kuat.
5. Dukung Tanpa Harus Mengendalikan.
Waktu luang bersama bisa jadi kesempatan menunjukkan bahwa orangtua menghargai proses anak. Tanyakan pendapatnya, hargai pilihannya, dan tunjukkan bahwa Anda percaya ia sedang belajar menjadi pribadi yang dewasa.
6. Kualitas Mengalahkan Kuantitas
Tidak semua orangtua memiliki banyak waktu luang. Namun, bukan banyaknya jam yang paling berpengaruh, melainkan bagaimana waktu itu diisi dengan perhatian, ketulusan, dan kehadiran penuh. Ketika anak merasa dilihat dan dihargai, ia akan membawa perasaan itu sebagai kekuatan dalam menghadapi dunia luar. Peran orangtua di usia kuliah bukan lagi menjadi pengatur hidup anak, tetapi menjadi tempat berpulang yang hangat dan aman. Maka dari itu, mari manfaatkan waktu yang ada, sekecil apa pun, untuk menumbuhkan hubungan yang sehat dan penuh makna dengan anak.
Referensi:
- Levin, K. A., & Currie, C. (2010). Family structure, mother–child communication, father–child communication, and adolescent life satisfaction: A cross-sectional multilevel analysis. Health Education, 110(2), 152–168.
- Arnett, J. J. (2000). Emerging adulthood: A theory of development from the late teens through the twenties. American Psychologist, 55(5), 469–480.
- Ackard, D. M., Neumark-Sztainer, D., Story, M., & Perry, C. (2006). Parent–child connectedness and behavioral and emotional health among adolescents. American Journal of Preventive Medicine, 30(1), 59–66.
Published at :
SOCIAL MEDIA
Let’s relentlessly connected and get caught up each other.
Looking for tweets ...